PELAJARAN SEKOLAH SABAT
KWARTAL 2 TAHUN 2018
PERSIAPAN UNTUK AKHIR ZAMAN
PELAJARAN 11
METERAI ALLAH ATAU TANDA BINATANG
Ayat Hafalan:
"Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang
Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!
Wahyu 15:3
PENDAHULUAN
1. Wahyu 15 menyatakan
bahwa “orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan
bilangan namanya,” menyanyikan nyanyian Musa dan Anak Domba sementara mereka
berdiri di tepi lautan kaca di surga.
2. Bagaimana kita
dapat berada diantara kelompok itu? Salah satu tanda yang paling jelas dari
umat Allah yang sejati pada akhir zaman adalah mengabarkan pekabaran tiga
malaikat, yang memperingatkan untuk tidak menerima tanda binatang itu.
3. Bagaimanapun,
meskipun tidak ada peringatan yang lebih serius dalam semua Alkitab, banyak
gagasan membingungkan seperti tanda yang dipikirkan selama ini: sebuah barcode
di dahi, nomor kartu kredit, atau beberapa pengenal biometric.
4. Kita seharusnya
tidak perlu heran pada penyebaran ide membingungkan dalam hal Babel. Lagipula,
namanya berarti “kebingungan.” Tetapi umat Allah yang sisa membutuhkan
pemahaman yang jelas akan topic ini supaya memiliki kuasa untuk memproklamirkan
pekabaran tiga malaikat.
5. Pelajaran pekan
ini, kita akan mencoba untuk memahami lebih baik apa tanda binatang itu dan
baggaimana menghindarinya – dengan menerima meterai Allah.
APAKAH ARTI DARI METERAI ALLAH
DAN TANDA BINATANG DALAM KITAB WAHYU?
I. TANDA ALLAH YANG
MENGINDETIFIKASI UMAT-NYA
A. Dua tanda lahiriah
sebagai identitas umat Allah yang sejati.
1. Sunat (Kej.
17:9-11; Kel. 31:13, 17).
a. Allah memerintahkan
Abraham dan keturunannya supaya disunat sebagai satu tanda perjanjian
keselamatan. Laki-laki disunat pada hari kedelapan setelah lahir (Im. 13:3). Sunat
juga melambangkan hati dibarui (lihat Ul. 30:6).
b. Paulus menulis:
“Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang
disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi
orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah
sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya
datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Rm. 2:28, 29).
c. 1 Kor. 7:19; Gal.
5:6; dan Gal. 6:15 menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru sunat digantikan
dengan baptisan, yang melambangkan pertobatan, seorang “ciptaan baru,” mati
kepada dosa dan bangkit kepada kehidupan baru (lihat Rm. 6:3, 4). Itu sebabnya
Paulus mengatakan sunat tidak lagi penting dan yang penting adalah “iman
bekerja melalui kasih” dan “memelihara hukum Allah.”
2. Sabat (Kel.
31:13,17; Yeh. 20:12, 20).
a. Sabat adalah
sebagai jalan kembali kepada Penciptaan (lihat juga Kej. 2:2, 3), sedangkan
sunat dimulai hanya sejak Abraham.
b. Yesus sambil
merujuk kepada kitab Kejadian, mengatakan: “Sabat diadakan untuk manusia” (Mrk.
2:27). Itu menunjukkan bahwa kita adalah milik Allah, melalui penciptaan, Dia
menjadikan kita, dan melalui penebusan, Dia membenarkan dan menyucikan kita.
c. Paulus mengatakan
bahwa sunat tidak lagi penting, dia manganjurkan memelihara Hukum Allah
(termasuk hari Sabat) masih penting (Ibrani 4:9).
II. BINATANG DAN IBADAH
PALSU
A. Wahyu 13:16 “Dan
ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau
miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada
dahinya,”
B. Why. 13:17; 14:9,
10; 16:2 menyatakan bahwa mereka yang menerima tanda binatang: Menerima murka
Allah yang murni, dihukum melalui tujuh tulah terakhir, dan dilemparkan ke dalam
lautan api. -- Ayat-ayat itu juga menyatakan bahwa “tanda binatang” itu memiliki
hubungan dengan ibadah palsu.
C. Daniel 7 menyatakan
bahwa kekuasaan binatang keempat, dalam fase yang terakhir (yang dalam Wahyu 13
digambarkan sebagai binatang yang keluar dari dalam laut) berusaha “untuk
mengubah waktu dan hukum” (Dan. 7:25).
·
Satu hukum yang dipikirkan untuk diubah adalah Sabat,
hukum keempat – satu-satunya dari sepuluh hukum yang merujuk kepada waktu dan
menunjuk langsung kepada Allah sebagai “Pencipta langit dan bumi dan laut, dan
segala isinya, dan berhenti pada hari ketujuh” (Kel. 20:11).
·
Pekabaran malaikat pertama mengarahkan kita untuk kembali
kepada hukum ini yang membuat jelas
bahwa kita hanya menyembah Tuhan sebagai pencipta (Wahyu 14:6,7). Faktanya, tujuh
ayat yang berhubungan dengan penyembahan dalam Wahyu 12-14, ayat ini (14:7)
satu-satunya tentang ibadah yang benar; enam ayat lainnya memperingatkan agar
tidak menyembah binatang dan patungnya (Why. 13:4, 8, 12, 15; 14:9, 11).
·
Pekabaran malaikat ketiga kepada para penyembah Allah
yang benar: “Yang penting disini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang
menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus” (Why. 14:12), merujuk kepada hukum
ini, yang telah dilupakan pada akhir zaman.
D. Pekabaran 3
malaikat (Why. 14:6-13) memisahkan semua umat manusia menjadi dua kelompok:
mereka yang menyembah Pencipta melalui memelihara hukum-hukum-Nya, termasuk
Sabat hari ketujuh, dan mereka yang menyembah binatang dan patungnya -- Bentuk
ibadah palsu ini, kemudian menawarkan sebuah alternative untuk menyembah
Pencipta melalui hukum Sabat.
III. METERAI ALLAH
A. Wahyu 7:2, 3
Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia
membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada
keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya:
"Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami
memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!"
B. Meterai, seperti
tanda tangan, digunakan untuk mensahkan sebuah dokumen. Pada zaman purba
meterai adalah sebuah stempel ditekan ke lilin yang lembut atau tanah liat
untuk menunjukkan keaslian atau kepemilikan, dibelakangnya ada otoritas pemiliknya.
C. Apakah meterai
Allah itu, bagaimanakah dan kapankah itu diberikan?
1. Ef. 1:13, 14; 4:30
– Meterai Allah adalah Roh Kudus – dimeterai menjelang hari penyelamatan.
2. 2 Tim. 2:19 –
meterai Allah: “Tuhan mengenal siapa kkepunyaan-Nya.”
3. Why. 7:1-4 – meterai
Allah diberikan pada dahi, 144 ribu.
4. Why. 14:1 – meterai
Allah adalah nama Anak Domba dan nama Bapa-Nya.
D. Efesus 1:13, 14;
4:30 menyatakan bahwa meterai Allah, adalah tanda kepemilikan Allah dan
perlindungan kepada umat-Nya. Paulus menjelaskan sebuah meterai dalam
hubungannya dengan pertobatan dan penerimaan kasih karunia Roh Kudus. Dia
menyebut kasih karunia ini sebagai “deposit” atau “uang muka” yang diberikan
kepada semua orang percaya sebagai satu jaminan penebusan yang sempurna dan
warisan masa mendatang yang mereka akan terima pada waktu Yesus Kristus datang.
E. Wahyu 7:1-4 dan
14:1 menggambarkan pemeteraian yang lain sebelum kedatangan Yesus yang kedua
kali. Meterai terakhir diberikan kepada 144.000 pada saaat pencurahan Roh Kudus
ketika hujan akhir. Mereka memiliki nama Allah (atau tanda tangan) tertulis di
dahi mereka. Melalui pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan mereka, mereka
memantulkan tabiat Allah.
F. Why. 7:3, 14:9
menyatakan perbedaan antara meterai Allah dan tanda binatang:
1. Meterai Allah
a. Diberikan kepada
penyembah Allah yang benar
b. Hanya diberikan di
dahi, menunjukkan pilihan yang pasti untuk menyembah Allah dengan cara menuruti
apa yang telah diperintahkan-Nya
2. Tanda Binatang
a. Diberikan kepada
penyembah binatang.
b. Diberikan di dahi
atau di tangan. Ini berarti bahwa manusia bisa menyembah binatang karena satu
dari dua alasan. Apakah dalam pikiran mereka, mereka menyetujuinya, mereka
berpikir bahwa mereka sungguh-sungguh menyembah Allah, atau yang lain tidak
setuju dengan itu tetapi mereka ikut serta karena takut akan konsuekensi serius
jika tidak menerimanya – tidak dapat membeli atau menjual dan dibunuh(Why.
13:17, 18).
G. “Mereka yang
bersatu dengan dunia akan menerima watak dunia dan persiapan untuk tanda
bintang. Mereka yang tidak percaya pada diri sendiri, yang merendahkan hatinya
dihadapan Allah dan memurnikan jiwanya melalui penurutan akan kebenaran –
orang-orang inilah yang akan menerima watak surgawi dan bersedia menerima
meterai Allah di dahi mereka.” – Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 5. Hlm. 216.
IV. TANDA BINATANG
A. Why. 13:16, 17
Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau
miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada
dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari
pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan
namanya.
B. Apakah tanda ini
yang perlu kita hindari?
1. Itu adalah tanda
dari kekuasaan binatang keempat Daniel 7, dalam fase yang terakhir (atau
digambarkan melalui binatang yang keluar dari dalam laut Wahyu 13), yang akan
“berusaha mengubah waktu dan hukum” (Dan. 7:25).
·
Satu hukum yang diusahakan untuk diubah adalah Sabat,
hukum keempat, hukum yang langsung menunjuk kepada Allah sebagai “menjadikan
langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan ia berhenti pada hari ketujuh”
(Kel. 20:11)
·
Pekabaran malaikat pertama – mengarahkan pembaca
kembali kepada hukum yang sama, yaitu hukum yang kuasa binatang coba untuk ubah
– menjadikannya jelas bahwa kita menyembah Tuhan sebagai Pencipta (Why.
14:6-7).
·
Amaran pekabaran malaikat 3 kepada orang-orang kudus
untuk “menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus” (Why. 14:12) menunjuk
kepada Sabat yang termasuk dalam “Perintah Allah” yang adalah hukum keempat.
2. Tidak heran,
kemudian banyak melihat isu “tanda binatang” langsung menghubungkannya dengan
ibadah hari Minggu, “Sabat palsu” yang tidak diperintahkan dalam Alkitab,
bertentangan dengan pemeliharaan hukum keempat, yang diperintahkan dalam
Alkitab.
C. Apakah ini berarti
bahwa orang Kristen yang menyembah Allah pada hari Minggu sekarang memiliki
tanda binatang? Tidak. Menurut Wahyu 13:15, mereka yang menolak bergabung dalam
ibadah palsu dari binatang akan dibunuh. Itu akhirnya menjadi isu hidup – atau –
mati. Namun, jelas, kejadian belum
sampai pada titik itu, dan tanda binatang tidak akan diberikan sampai ujian
terakhir datang. Maka, belum ada satupun yang sudah yang menerima tanda
binatang.
V. SABAT SEBAGAI
METERAI
A. Ibrani 4:9 “Jadi
masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.”
B. Seperti yang telah
kita lihat, Sabat hari ketujuh telah menjadi tanda umat Allah yang benar
sepanjang sejarah, dimulai dari Adam dan Hawa dilanjutkan sampai zaman Israel.
Kita melihat Sabat diabadikan si Gereja Perjanjian Baru dengan praktik Yesus
dan para rasul, dan sebagai pembeda umat Allah di akhir zaman yang “menuruti
perintah Allah, dan iman kepada Yesus” (Why. 14:12).
C. Mengapakah Sabat
begitu penting, dan apa makna khusus yang dimilikinya bagi orang Kristen? Kel.
20:8-11; Ibr. 4:9, 10.
1. Sabat muncul dalam
jantung sepuluh hukum.
2. Sabat diberikan
oleh Pencipta sebagai tanda atau meterai otoritas-Nya.
3. Sabat
memperkenalkan Dia dengan nama “TUHAN Allahmu.”
4. Sabat
memperkenalkan wilayah dimana Dia memiliki yurisdiksi, “langit dan bumi, laut,
dan segala isinya.”
5. Sabat juga
memperkenalkan dasar dan otoritas-Nya, “enam hari lamanya TUHAN menjadikan
langit dan bumi… dan berhenti pada hari ketujuh.”
D. Yesus dan hari
Sabat:
1. Perjanjian Baru
memperkenalkan Yesus sebagai Seorang yang didalam-Nya Allah menjadikan segala
sesuatu (Yoh. 1:1-3; Ibr. 1:1, 2). Yesuslah yang menciptakan dunia kita dalam
enam hari dan berhenti pada hari
ketujuh. Maka itu sangat berarti karena sementara Yesus disalibkan di kayu
salib pada hari Jumat sore, Dia berteriak, “sudah selesai!” (Yoh. 19:30).
2. Sama seperti Dia
beristirahat pada hari Sabat setelah menyelesaikan pekerjaan Penciptaan, maka
Yesus beristirahat di dalam kubur pada hari Sabat setelah menyelesaikan
pekerjaan pengorbanan-Nya melalui kematian untuk menebus kita. Jadi, hari Sabat
memiliki berkat ganda; pertama saat penciptaan dan kemudian saat Salib. Itu
sebabnya, menurut kitab Ibrani, dalam beristirahat pada hari Sabat orang
Kristen menunjukkan bahwa dia “telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama
seperti Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya (ibr. 4:10).
3. Sabat adalah
lambang yang sempurna dari kenyataan bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri
kita sendiri, bahwa dari awal sampai akhir itu adalah karya Kristus yang
membuatnya mungkin melalui iman (bandingkan Ibr. 12:2).
KESIMPULAN
1. Meterai Allah
adalah Sabat
2. Tanda binatang
adalah Sabat palsu.
3. “Hari Sabat akan merupakan ujian terbesar
kesetiaan, karena itulah pokok kebenaran yang terutama dipertentangkan.
Bilamana ujian terakhir dilakukan keatas manusia, maka garis pemisah akan
ditarik antara mereka yang melayani Allah dan yang tidak melayani-Nya.
Sementara pemeliharaan sabat palsu yang sesuai dengan hukum Negara yang
bertentangan dengan hukum keempat, adalah suatu pengakuan kesetiaan kepada
suatu kuasa yang menentang Allah, maka pemeliharaan Sabat yang benar, dalam
penurutan kepada hukum Allah adalah suatu bukti kesetiaan kepada Pencipta.
Sementara satu golongan, oleh menerima tanda penurutan kepada kuasa-kuasa
duniawi, menerima tanda binatang, maka yang satu golongan yang memilih tanda
kesetiaan kepada kekuasaan Ilahi, menerima meterai Allah.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 637.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar