Senin, 05 Maret 2018

PERAN PENATALAYANAN


PELAJARAN SEKOLAH SABAT
KWARTAL 1 TAHUN 2018
PENATALAYANAN MOTIVASI HATI

PELAJARAN 10
PERAN PENATALAYANAN


Ayat Hafalan:
“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus”
1 Tesalonika 4:7

PENDAHULUAN
·         Penatalayanan adalah sederhana namun juga kompleks, dan dengan demikian dapat dengan mudah disalahpahami. Namun, tidak ada seorang Kristen atau gereja yang hadir atau berfungsi tanpanya.
·         Menjadi seorang Kristen adalah menjadi seorang penatalayan juga.
·          “Itu bukanlah teori atau filsafat melainkan program kerja. Ini adalah dalam kebenaran hukum kehidupan Kristen.... Hal ini diperlukan untuk pemahaman yang memadai tentang kehidupan, dan penting untuk sebuah kebenaran, pengalaman keagamaan yang penting. Ini bukan sekadar persetujuan mental, tetapi adalah tindakan dari kehendak dan nyata, transaksi menentukan yang menyentuh seluruh lingkaran kehidupan.”—LeRoy E. Froom, Stewardship in Its Larger Aspects (Mountain View: Calif., Pacific Press Publishing Association, 1929), hlm. 5.
·         Apakah beberapa prinsip inti dari apa artinya menjadi seorang penatalayan Kristen? Apakah peran yang dimainkan penatalayanan dalam kehidupan Kristen?

PERAN PENATALAYANAN DAPAT DIJELASKAN MELALUI ANALOGI RODA KERETA KUDA (LIMA BAGIAN).


I.      SUMBU RODA: KRISTUS SEBAGAI PUSAT
A.   Sebagaimana sumbu adalah pusat roda dan dengan demikian membawa berat gerobak, Kristus adalah pusat kehidupan penatalayan. “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5).  Sebagaimana sumbu yang kuat memberikan stabilitas, memungkinkan roda untuk berputar, Yesus juga adalah pusat eksistensi kekristenan kita yang tetap dan stabil (Ibr. 13:8).
B.   Yesus adalah tokoh utama di seluruh Alkitab (Yoh. 5:39), dan kita perlu melihat diri kita sendiri dalam hubungan dengan-Nya. Dia membayar hukuman dosa dan adalah “tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Yesus memiliki segala kuasa di surga dan di bumi (Mat. 28:18), dan segala sesuatu ada di tangan-Nya (Yoh. 13:3). Nama-Nya lebih tinggi daripada semua yang lain, dan satu hari nanti setiap lutut akan sujud kepada-Nya (Flp. 2:9-11).
C.   “Yesus adalah pusat yang hidup dari segala sesuatu.”—Ellen G. White, Mari Bersaksi, hlm. 209. Kristus adalah jantung dari penatalayanan kita dan sumber dari kuasa kita. Karena Dia, kita menghasilkan kehidupan yang layak, menunjukkan kepada semua bahwa Dia adalah fokus utama dari kehidupan kita.
D.   Teladan menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan: Paulus -- “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21).
E.    Pentingnya Yesus sebagai pusat kehidupan kita:
1.    Kolose 1:16-18 – karena Yesus kita (semuanya) telah diciptakan.
2.    Roma 8:21 – karena Yesus kita merdeka dari dosa.
3.    2 Korintus 5:17 – karena Yesus kita menjadi ciptaan baru.
F.    Tidak ada penatalayanan yang tulus tanpa Kristus menjadi inti utama kita (Gal. 2:20). Dia adalah pusat dari “pengharapan yang penuh bahagia” (Tit. 2:13), dan “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:17).
G.   Seluruh aspek penatalayanan berputar keliling dan penatalayanan menemukan pusatnya dalam Kristus. Pusat dari penatalayanan bukanlah kekosongan yang hampa tetapi realitas dari Kristus yang hidup, yang bekerja di dalam kita untuk membentuk karakter kita sekarang dan selamanya.

II.    PUSAT RODA: DOKTRIN BAIT SUCI
A.   Sebagaimana pusat roda menempel ke sumbu roda dan memberikan stabilitas lebih untuk roda ketika itu berputar, demikian juga doktrin bait suci memberikan stabilitas untuk iman kita.
B.   Orang biasanya tidak berpikir tentang bait suci dalam konteks penatalayanan. Namun mata rantainya di sana karena bait suci begitu penting bagi sistem kepercayaan kita, dan penatalayanan adalah bagian dari sistem tersebut. “Pengertian yang benar tentang pelayanan (dari Kristus) dalam bait suci surgawi adalah dasar iman kita.”—Ellen G. White, Mari Bersaksi, hlm. 246.
C.   Setelah mengalami kematian dan kebangkitan yang menang (2 Tim. 1:10), Kristus melalui kematian-Nya memulaikan pekerjaan-Nya dalam bait suci (Ibr. 6:19, 20) dan memberikan stabilitas untuk iman kita. Dan dari bait suci Ia melayani demi kita yang diam di bumi ini (Ibr. 8:1,2).
D.   Pelayanan Yesus dalam bait suci:
1.    1 Yoh. 2:1 – Yesus adalah pengantara kita kepada Bapa
2.    Ibr. 4:14-16 – Yesus adalah Imam Besar kita.. Ia merasakan kelemahan kita.
3.    Why. 14:7 – Yesus akan menghakimi bumi.
E.    Peran penatalayanan mencerminkan kehidupan yang berjangkar dalam kebenaran agung keselamatan, sebagaimana terungkap dalam doktrin bait suci. Semakin dalam kita memahami apa yang Kristus telah lakukan bagi kita dan apa yang Dia sedang lakukan di dalam kita sekarang, semakin dekat kita kepada Kristus, pelayanan-Nya, misi-Nya, pengajaran-Nya, dan maksud-Nya bagi mereka yang menghidupkan prinsip penatalayanan dalam hidup mereka.

III.  JARI-JARI RODA: DOKTRIN-DOKTRIN YANG BERPUSAT PADA KRISTUS
A.   Bait suci adalah pusat karena merupakan tempat kebenaran agung keselamatan begitu kuat dinyatakan, dimana makna salib diungkapkan. Dan semua doktrin kita, dengan cara apapun, harus dikaitkan dengan janji Injil dan keselamatan. Seperti jari-jari Roda, doktrin yang lainnya datang dari kebenaraan agung keselamatan oleh iman dalam Yesus.
B.   “Pengorbanan Kristus sebagai pendamaian bagi dosa adalah kebenaran agung di mana semua kebenaran lainnya tumbuh berkelompok.” – Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 5, hlm. 1137.
C.   Pengajaran doktrin kita memengaruhi siapa kita dan ke arah mana kita pergi. Doktrin-doktrin bukan hanya ide-ide teologi yang abstrak. Semua doktrin yang benar berlabuh didalam Kristus, dan semua harus dengan berbagai cara memengaruhi bagaimana kita hidup. Faktanya, seseorang bisa dibenarkan berkata bahwa identitas kita sebagai orang Advent berakar pada pengajaran-pengajaran doktrin kita lebih daripada apapun. Maka, pengajaran-pengajaran yang kita peroleh dari Alkitab adalah, apa yang menjadikan siapa kita sebagai orang-orang Advent.
D.   Peran penatalayanan adalah untuk menghidupkan kebenaran doktrin didalam Yesus dan melakukannya dalam cara yang secara positif memengaruhi kualitas hidup kita.
E.    Efesus 4:21-24  “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
F.    Menjadi penatalayan bukan hanya tentang memercayai doktrin-doktrin, betapa benarnya pun doktrin-doktrin tersebut, menjadi seorang penatalayan berarti menghidupkan kebenaran-kebenaran tersebut dalam hidup kita dan dalam interaksi dengan orang lain.

IV. PELEK RODA: PEKABARAN TIGA MALAIKAT
A.   Pelek roda itu dekat dengan titik kontak dengan tanah dan melukiskan misi dari pekabaran tiga malaikat. Misi mereka adalah untuk melindungi penyimpangan teologis dan mengenali tanggung jawab kita dalam peristiwa akhir zaman. Kita harus menjadi penatalayan dari pekabaran-pekabaran ini – mengabarkannya kepada dunia.
B.   Hanya dua kali Allah telah mengamarkan dunia akan datangnya bencana: sekali kepada Nuh (Kej. 6:13-18; Mat. 24:37) dan yang lain melalui pekabaran tiga malaikat (Why. 14:6-12). Pekabaran ini menarik kembali tirai untuk mengungkapkan perspektif yang unik pada peristiwa masa depan dunia. Pemahaman kita tentang pekabaran ini telah matang dari waktu ke waktu, tetapi pekabaran dan misinya masih tetap dibenarkan oleh iman dalam Kristus, “pekabaran malaikat yang ketiga dalam kebenaran.” – Ellen G. White, Mari Bersaksi, hlm. 213.
C.   Sebagai orang Advent, misi kita adalah menyampaikan kebenaran pekabaran tiga malaikat dalam persiapan untuk kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang-orang harus mampu membuat keputusan tentang kekekalan. Peran penatalayanan adalah kemitraan dengan Allah dalam misi (2 Kor. 5:20; 6:1-4).
D.   “Dalam arti khusus orang-orang Advent telah ditetapkan di dunia sebagai penjaga dan pembawa terang. Kepada mereka telah dipercayakan amaran terakhir bagi dunia yang sedang binasa. Pada mereka bersinar terang ajaib dari Firman Allah. Mereka telah diberikan pekerjaan akan maksud yang paling khidmat – mengumumkan pekabaran pertama, kedua, dan ketiga. Tidak ada pekerjaan lain yang begitu sangat penting. Mereka tidak mengizinkan yang lain memikat perhatian mereka.” – Ellen G. White, Testimonies for the church, Jld. 9, hlm. 19.

V.   BANTALAN BESI: KONSEP PENATALAYANAN
A.   Bangsa Romawi menemukan bahwa roda kereta akan bertahan lama jika bantalan besi ditempatkan di sekitar pelek. Pengrajin besi memanaskan logam untuk memanjangkannya agar cukup disisipkan diatas pelek. Air dingin mengerutkannya agar tepat ukurannya. Bantalan besi kemuudian melakukan kontak dengan jalan sementara roda berputar.
B.   Bantalan besi pada pelek dapat melambangkan konsep penatalayanan. Ini adalah kebenaran penting, dimana kehidupan kita bergesekan dengan kehidupan praktis kita. Ini adalah dimana iman kita mengalami pasang surut kehidupan melalui keberhasilan dan kegagalan. Ini adalah dimana keyakinan kita menjadi nyata dalam sukarnya dan jatuh bangun kehidupan setiap hari. Penatalayanan adalah pembungkus luar siapa kita dan apa yang kita lakukan. Itu adalah kesaksian dari perilaku kita dan kehidupan yang diatur dengan baik. Tindakan kita setiap hari yang menyatakan kristus adalah seperti besi pada roda yang menyentuh jalan.
C.   Kristus menginginkan kita untuk menghidupkan kehidupan yang kudus. Kehidupan-Nya menjelaskan “kekudusan” dan bagaimana seharusnya puncak penatalayanan itu terlihat (Ibr. 9:14). Kita harus mengatur hidup kita dalam cara yang menyenangkan Allah: termasuk bagaimana kita mengatur semua yang telah dipercayakan kepada kita. Penatalayan adalah ekspresi dari kekudusan itu.
D.   Perbuatan sangat berkuasa dan harus dikendalikan oleh komitmen kita kepada Kristus. Kita harus hidup dengan jaminan dan janji ini: “segala perkara  dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).
E.    “Penyucian jiwa oleh pekerjaan Roh Suci adalah penanaman sifat Kristus dalam diri manusia. Agama injil adalah Kristus dalam kehidupan – sebuah asas yang hidup dan aktif. Ia adalah karunia Kristus yang dinyatakan dalam tabiat dan dilaksanakan dalam perbuatan kebajikan. Asas injil tidak dapat diputuskan dari sesuatu bagian kehidupan yang praktis. Setiap bidang pengalaman serta pekerjaan umat beragama harus menjadi gambaran dari kehidupan Kristus.” --- Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi, hlm. 297.

KESIMPULAN
Peran penatalayanan dapat dilihat dari analogi roda kereta
1.    Sumbu Roda: Kristus Sebagai Pusat
2.    Pusat Roda: Doktrin Bait Suci
3.    Jari-Jari Roda: Doktrin-Doktrin Yang Berpusat Pada Kristus
4.    Pelek Roda: Pekabaran Tiga Malaikat
5.    Bantalan Besi: Konsep Penatalayanan
Peran Penatalayanan bagi kehidupan kita:
1.    Penatalayanan menyatakan bahwa Yesus harus menjadi pusat kehidupan kita. Tanpa-Nya kita  tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:5).
2.    Penatalayanan menyatakan kepada kita kebenaran agung keselamatan melalui doktrin bait suci (Ibr. 6:19, 20)
3.    Penatalayanan menyatakan bahwa kita harus menghidupkan setiap kebenaran-kebenaran yang berpusat pada Kristus didalam kehidupan kita (Yoh. 17:17).
4.    Penatalayanan menyatakan bahwa kita adalah mitra Allah untuk menjalankan misi Allah (2 Kor. 5:20; 6:1-4)
5.    Penatalayanan menyatakan bahwa kita harus menyatakan Kristus melalui perilaku dan kehidupan kita setiap hari (1 Pet. 1:15, 16).





PELAYANAN PDT. BRUSSI SORITON


Kamis, 01 Maret 2018

PERSEMBAHAN SYUKUR


PELAJARAN SEKOLAH SABAT
KWARTAL 1 TAHUN 2018
PENATALAYANAN MOTIVASI HATI

PELAJARAN 9
PERSEMBAHAN SYUKUR


Ayat Hafalan:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” Yohanes 3:16.

PENDAHULUAN
·      Allah kita adalah Allah pemberi; (terlihat jelas pada pengorbanan Yesus)
o   Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.”
o   Lukas 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Suci kepada mereka yang meminta kepada-Nya”
·      Karakter Allah adalah suka memberi dan kita sebagai umat-Nya harus memiliki karakter suka memberi itu… Jangan menjadi  “seorang Kristen yang mementingkan diri.”
·      Satu cara untuk mengembangkan karakter memberi adalah dengan memberikan kembali apa yang telah diberikan kepada kita melalui persembahan.
·      Persembahan kita memberikan kesempatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan cinta… Memberi dengan murah hati, baik dari harta, waktu, atau talenta, adalah sarana yang kuat dalam menghidupkan iman kita dan menyatakan karakter dari Allah yang kita layani
·      Pelajaran pekan ini memberikan kita aspek-aspek penting memberikan persembahan syukur.

ASPEK-ASPEK PENTING MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH (5 ASPEK):

I.      MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH ADALAH TANDA BAHWA SURGA TELAH MENJADI TUJUAN HIDUP KITA (MAT. 16:19-21)
A.   Mat 6:19-21  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 
B.   Penatalayan yang bijaksana harus peduli dengan menempatkan harta di surga untuk pengamanan. Di sana, tidak seperti di sini, kita tidak perlu khawatir tentang kerusakan, pencuri, atau bahkan perampok.
C.   Konsep paling penting tentang penatalayanan. Hartamu menarik, menyeret, memaksa, mengambil, mendesak, memikat, dan ingin mengendalikan hatimu.
D.   Dalam dunia materi hatimu mengikuti hartamu, sehingga di mana hartamu berada sangatlah penting. Semakin kita fokus pada kebutuhan duniawi dan keuntungannya, semakin sulit untuk berpikir tentang hal-hal surgawi.
E.    Mengaku percaya kepada Allah tetapi menyimpan harta kita di bumi adalah munafik. Tindakan kita harus sesuai dengan perkataan kita.
F.    Kita melihat harta kita di bumi oleh penglihatan, tetapi kita harus melihat persembahan kita sebagai harta di surga oleh iman (2 Kor. 5:7).
G.   Kutipan:
“Di bumi semuanya tidak stabil, tidak pasti dan tidak aman; itu mengalami kerusakan, kehancuran, pencurian dan kehilangan. Surga adalah sebaliknya: Segala sesuatu adalah kekal, tahan lama, aman dan tidak binasa. Di surga tidak ada kerugian.”—C. Adelina Alexe, “Where Your Heart Belongs,” dalam Beyond Blessings, diedit oleh Nikolaus Satelmajer (Nampa, Idaho: Pacific Press Publishing Association, 2013), hlm. 22.

II.    MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH ADALAH TANDA SAMBUTAN KITA AKAN KASIH KARUNIA ALLAH (1 PET. 4:10)
A.   1 Pet. 4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 
B.   Kita yang telah menerima pemberian kasih karunia Allah, kita telah menjadi “penatalayan yang baik dari kasih karunia Allah.” Artinya, Allah telah memberikan kepada kita kasih karunia; oleh karena itu, kita harus memberikan kembali dari apa yang telah diberikan kepada kita. Apa yang sudah kita terima, melalui kasih karunia, bukan sekadar untuk menyenangkan dan menguntungkan diri kita sendiri, tetapi untuk kemajuan Injil. Dengan cuma-cuma kita telah diberi (yang adalah apa kasih karunia itu sesungguhnya); maka, dengan cuma-cuma kita perlu memberikan segala hal yang kita bisa.
C.   Kasih karunia adalah “kebaikan yang tidak semestinya diberikan.” Allah memberikan semua kekayaan dan kuasa surga sebagai wujud  kasih karunia-Nya (2 Kor. 8:9). Bahkan para malaikat kagum pada hadiah utama itu (1 Ptr. 1:12).
D.   Dari semua yang Allah berikan kepada kita, kasih karunia yang diberikan kepada kita dalam Yesus Kristus adalah pemberian yang paling berharga dari semua.
E.    Tanpa kasih karunia, kita akan tanpa pengharapan karena kita diselamatkan oleh Kasih karunia Allah, dan bukan oleh perbuatan kita (penurutan hukum).
F.    Efesus 2:8,9  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 

III.  MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH ADALAH TANDA UCAPAN  SYUKUR KITA KEPADA ALLAH (LUK. 7:37-47).
A.   Lukas 7:37-47 – Teladan Maria membasuh kaki Yesus dengan minyak yang mahal sebagai tanda ucapan syukur karena telah dibebaskan dari kuasa setan.
B.   Kemurahan hati Allah mendorong kita untuk memberi, dan ketika digabungkan dengan rasa syukur kita, keduanya melengkapi unsur-unsur dari persembahan yang bermakna, termasuk waktu, talenta, harta, dan tubuh kita.
C.   Prinsip dalam memberikan persembahan:
1.    Keluaran 34:26 – Berikan yang terbaik
2.    Imamat 22:19-24 – Tidak bercacat, tidak bercela.
3.    Bilangan 18:29 – Hukuman: dilenyapkan!
D.   Persembahan terbaik kita mungkin tidak cukup di mata kita, tetapi persembahan itu berarti di mata Allah. Memberikan yang terbaik kepada Allah menunjukkan bahwa kita mengutamakan Dia dalam hidup kita. Kita tidak memberi persembahan untuk menerima berkat; sebaliknya, kita memberi apa yang kita miliki dari rasa syukur atas apa yang telah diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus.
E.     Kutipan Roh Nubuat:
“Seluruh pengabdian dan kebajikan, didorong oleh cinta yang bersyukur, akan berdampak kepada persembahan terkecil, korban sukarela, aroma Ilahi, membuat pemberian itu tak ternilai harganya. Tetapi, setelah rela menyerah kepada Penebus kita, semua yang kita bisa berikan, itu menjadi sangat berharga bagi kita, jika kita melihat utang rasa syukur kita kepada Allah sebagaimana adanya, semua yang mungkin kita telah persembahkan akan tampak kepada kita sangat tidak mencukupi dan sedikit. Tetapi malaikat-malaikat mengambil persembahan ini, yang bagi kita tampak buruk, dan mempersembahkannya sebagai persembahan yang harum di hadapan takhta, dan mereka diterima.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 397.

IV. MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH ADALAH TANDA KESUNGGUH-SUNGGUHAN MOTIF HATI KITA UNTUK MENGASIHI ALLAH (LUK. 21:3).
A.   Luk 21:3  Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. 
B.   Yesus memuji pemberian dari Janda itu karena Dia mengetahui motif hati dari janda tua itu. --- Allah mengetahui motif hati kita yang sebenarnya (Yak. 4:12; Ams. 16:2; 1 Kor. 4:5).
C.   Memberi dalam berkelimpahan tidak memerlukan banyak iman, tetapi memberi dengan pengorbanan demi kebaikan orang lain sesungguhnya dapat mengatakan sesuatu yang kuat tentang hati kita.
D.   Motif memberi bisa karena ego atau karena peduli pada orang lain – ini adalah pertarungan rohani yang sering terjadi.
E.    Mementingkan diri sendiri akan mendinginkan hati yang pernah berkobar untuk Allah. Masalah muncul ketika kita membiarkan mementingkan diri sendiri ke dalam pengalaman Kekristenan kita. Artinya, kita menemukan cara untuk membenarkan keegoisan kita dan melakukannya dalam nama Kristus.
F.    Hal penting dalam memberi adalah Kasih -- kasih tidak dapat diwujudkan tanpa penyangkalan diri, kesediaan untuk memberikan diri sendiri, serta berkorban untuk kebaikan orang lain… Kecuali kasih Allah dipantulkan dalam hidup kita, pemberian kita tidak akan memantulkan kasih Allah.
G.   Hati yang egois cenderung hanya mencintai dirinya sendiri. Kita harus meminta Tuhan untuk “menyunat hati kita” (Ul. 10:16) sehingga kita bisa belajar untuk mengasihi sebagaimana kita telah dikasihi.
H.   Motif memberi yang tertinggi: KASIH ALLAH YANG DIARAHKAN KEPADA KITA MENGILHAMI KITA UNTUK MEMBALAS KASIH.
I.      2 Kor. 8:12  Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

V.   MEMBERIKAN PERSEMBAHAN SYUKUR KEPADA ALLAH ADALAH TANDA IMAN KITA KEPADA ALLAH
A.   2 Kor. 9:6, 7  Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
B.   Persembahan sukarela dan murah hati yang kita berikan adalah memberikan keuntungan untuk diri kita sendiri, sang pemberi, sebagaimana hal-hal tersebut bisa terjadi kepada mereka yang menerimanya. Hanya mereka yang memberi dengan cara ini dapat mengetahui untuk diri mereka sendiri betapa lebih menyenangkan untuk memberi daripada menerima.
C.   Memberi persembahan yang murah hati dapat dan seharusnya sangat pribadi, tindakan rohani. Itu adalah pekerjaan iman, sebuah ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan kepada kita di dalam Kristus. Dan, seperti tindakan iman lainnya, memberi hanya meningkatkan iman karena “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yak. 2:20).
D.   Sementara kita memberi, dengan sukarela dan murah hati, kita dengan cara kita sendiri mencerminkan karakter Kristus. Kita belajar lebih banyak tentang seperti apa Allah itu dengan merasakan-Nya di dalam tindakantindakan kita. Maka, memberi seperti ini hanya membangun kepercayaan pada Allah dan kesempatan untuk “kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm. 34:9).
E.     Kutipan Roh Nubuat:
“Akan tampaklah kelak bahwa kemuliaan yang bersinar pada wajah Yesus itu ialah kemuliaan kasih yang lahir dari pengorbanan diri. Dalam terang yang dari Golgota akan tampak kelak, bahwa hukum kasih yang lahir dari penyangkalan diri ialah hukum hidup untuk bumi dan surga; bahwa kasih yang ‘tidak mencari keuntungan’ bersumber dalam hati Allah; dan bahwa dalam diri Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati itu ternyata tabiat Dia yang bersemayam dalam terang, yang tidak dapat dihampiri oleh seorang pun juga.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 14.

KESIMPULAN:
·         Memberikan persembahan syukur kepada Allah sangat penting:
1.      Itu adalah tanda bahwa surga telah menjadi tujuan hidup kita
2.      Itu adalah tanda sambutan kita akan kasih karunia Allah
3.      Itu adalah tanda ucapan sukur kita kepada Allah
4.      Itu adalah tanda kesungguh-sungguhan motif hati kita mengasihi Allah
5.      Itu adalah tanda iman kita kepada Allah.
·         Kutipan Roh Nubuat:
“Roh kemurahan hati adalah roh Surga. Roh mementingkan diri adalah roh Setan. Kasih pengorbanan diri Kristus diperlihatkan di kayu salib. Dia memberikan segala yang Dia miliki, dan kemudian memberikan Dirinya sendiri, agar manusia boleh diselamatkan. Salib Kristus mendorong kemurahan hati dari setiap pengikut Juruselamat yang berbahagia itu. Prinsip yang dijelaskan di sana adalah memberi, memberi. Ini dilakukan dalam perbuatan baik yang nyata dan perbuatan-perbuatan baik adalah buah kehidupan Kristen yang benar. Prinsip dari duniawi adalah mengambil, mengambil, dan dengan demikian mereka berharap mendapatkan kebahagiaan; tetapi melakukan dalam semua yang terkait dengannya, buahnya adalah penderitaan dan kematian.”—Ellen G. White, Advent Review and Sabbath Herald, 17 Oktober 1882.


PELAYANAN PDT. BRUSSI SORITON